Berita Blog Terbaru Hari Ini

ads

11/20/2016

Inilah Dampak Gadget Pada Anak

Awal perkenalan dengan gadget pas Shafraan umur 10 bulan.Awalnya terbiasa liat kakak kakaknya main game di tab.Dari sekedar jadi penonton lama kelamaan dia jadi tertarik utk mencoba. Seiring bertambahnya usia gadget merupakan barang yg tidak bisa terpisahkan dlm kesehariannya. Bermain berbagai jenis game bisa sampai berjam2 bahkan game bagaikan lagu nina bobo buat dia.Pokoknya main game dulu baru bisa tidur.Dan itu berlangsung setiap hari.Awalnya saya membiarkan.Saya memberikan.Saya memfasilitasi. Karena buat saya gadget adalah senjata ampuh saya utk menenangkan dia.Saat dia marah dan menangis saya pasti akan membujuknya dengan bermain game.Dan memang dia akan langsung tenang.

Di umurnya yg ke 2 tahun sebenarnya saya sudah melihat tanda tanda ke’kaku’an dari caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.Contohnya saja bagaimana dia merespon permainan manual (mobil2an,pesawat,dan jenis permainan lain yg dia punya). Pernah sekali saya mendapati dia hanya memegang mobil2annya sambil diam saja.Tidak ada gerakan layaknya seorang anak laki2 yg diberi mobil2an yg pasti sudah memainkannya sambil meniru suara mobil.Dia kebingungan tebak saya.Karena selama ini dia hanya terbiasa menggerakkan jari2nya mengikuti alur permainan dari dalam gadgetnya.

Keanehan lainnya dan yg paling mengkhawatirkan adalah kurangnya kosa kata yg bisa dia ucapkan.Padahal anak2 seumuran dia seharusnya sudah bisa berbicara dgn kosa kata yg lebih variatif.Dalam hati saya sudah was was…khawatir dengan perkembangan anak lelaki semata wayang saya. Sempat konsultasi dengan dokter anak mengenai adakah hubungan antara riwayat alergi tinggi yg di derita Shafraan dengan kondisinya ini.Dan jawabannya adalah tidak ada. Kemungkinan besar pengaruhnya merupakan kurangnya interaksi dari orangtua dan anggota keluarga yg kurang berkomunikasi/menstimulasi Shafraan agar memperbanyak kosa katanya.

Dan hati kecil saya berbisik…gadget-lah dipicu.Sejak sementara itu saya mulai membatasi penggunaan gadget di rumah.Seringkali saya mesti kewalahan menghadapi tantrumnya Shafraan krn saya berkeras tidak memberikan gadget ke dia.Dia ngamuk,nangis,melempar semua barang ke arah saya dan siapa saja yg ada di dekatnya termasuk kakak2nya.Dia susah makan,susah tidur dan rewel.Sangat rewel.Itu berlangsung sekitar 3 hari.Dan pada akhirnya kasihan. Itulah alasan akhirnya saya memberikan lagi gadget ke dia.Dan keadaan rumah jadi tenang kembali.

Puncaknya sekitar 2 bulan yg lalu saya ke RS buat imunisasi si debay Raisha.Ketemu sama dokter dibagian tumbuh kembang anak yg komunikatif sekali. Semua masalah kami konsultasikan termasuk bertanya tentang kondisi Shafraan. Akhirnya dokter coba mengetes motorik halusnya. Dan hasilnya semua stimulator bisa Shafraan untuk dan pertanyaan dari dokter bisa dia jawab walaupun kata2nya belum terlalu jelas. Alhamdulillah berarti Shafraan normal2 saja. Mungkin hanya masalah waktu saja sampai dia bisa bicara dgn jelas krn setahu saya anak laki2 memang agak lambat soal masalah bicara ketimbang anak perempuan. Begitu pikir saya.


http://rahmiusi.blogspot.com/2016/11/inilah-dampak-gadget-pada-anak.html


Tapi ternyata dokter mempunyai diagnosa lain.
Menurut dokter Shafraan sekarang dalam kondisi Speech delay atau keterlambatan bicara. Tidak tanggung2 perkembangan bicara Shafraan terlambat 1 tahun dari umurnya yg sudah 3 tahun 4 bulan waktu itu. Speech delay adalah istilah yg dipergunakan utk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yg normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki ketimbang perempuan.

Dokter menganjurkan agar Shafraan ikut Terapi Okupasi/Sensori Integrasi utk menstimulasi kemampuan bahasa dan kosa katanya. Setelah itu baru dilanjutkan ke Terapi Wicara.Ya Allah…pernyataan dari dokter itu bagaikan guntur disiang bolong.Baru sya sadar syalah penyebab Shafran jd gini.Saya tidak mau direpotkan dgn suara tangisan/rengekannya.Saya tidak mau melihat rumah berantakan krn mainannya.Saya tidak mau sibuk.Saya tidak mau capek.Saya EGOIS.Itulah kesalahan terbesar saya sebagai seorang ibu.Dan baru sekarang mata saya terbuka lebar tentang kondisi anak saya.Bagaimana bisa saya tidak peduli pada hal tersebut selama bertahun2?Bagaimana bisa saya menyia-nyiakan masa2 emas pertumbuhannya dgn menyibukkannya dengan gadget yg jelas jelas tidak ada gunanya selain kesenangan sementara?

Menyesal. Sangat menyesal. Seandainya waktu bisa diulang kembali pasti saya tidak akan melewatkan kesempatan utk mengajarkan dia berbicara.Namun nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan pun tiada guna.Satu yg pasti adalah bagaimana cara memperbaiki kondisi anak saya. Setelah berdiskusi dgn suami kami sepakat bahwa kami tidak akan mengikutsertkan Shafraan dlm terapi itu.Kenapa?Karena kami percaya bahwa anak kami bisa dan akan bisa berbicara seperti anak2 sebayanya.Dan karena ini adalah sepenuhnya kesalahan kami sebagai orangtua khususnya saya sebagai ibunya maka kamilah yg akan bertanggungjwb sepenuhnya tanpa campur tangan oranglain.
Sejak hari itu penggunaan gadget ditiadakan.Awalnya dia nangis sambil minta tab tapi dgn tegas saya bilang tab rusak.Besoknya dia minta lagi.Tetap saya bilang rusak.Selama kurang lebih seminggu dia masih sering meminta.

Tapi alhamdulillah akhirnya dia mulai lupa dengan rutinitasnya yg dulu dan mulai membuat kegiatan baru.Entah itu lari2 kecil di dlm rumah,menyusun mobil2an,main pesawat, memanjat tempat jemuran baju saya?,membongkar laci buku kakak2nya,ngambil buku dan pensil trus mulai mencorat coret.Bosan dengan buku pindahlah dia corat coret ke dinding.

Rumah tidak pernah bisa rapi.Mainan berantakan.Tetapi ada kemajuan pesat pada diri Shafraan.Pembendaharaan katanya sudah lebih banyak.Bahkan sekarang dia sudah bisa bicara membentuk kalimat.Walaupun masih belum terlalu jelas tapi saya sudah sangat bersyukur dgn keadaannya sekarang.
Ini adalah pelajaran bagi saya sebagai orangtua.Kita sayang sama anak…orangtua mana yg tidak?
Tapi orangtua pun harus lebih cermat memilah mana yg bisa dan tidak sepatutnya diberikan kepada anak.Jangan sampai krn pola asuh kita bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.Saya tidak melarang atau menghakimi orangtua yg masih memberikan gadget kepada anak2nya.Saya hanya berbagi pengalaman saja.Jangan sampai apa yg terjadi pada Shafraan terjadi pada anak2 lain.
Baca Juga:Do'a Pemanis Wajah Nabi Yusuf
Rekomendasi : Pentingnya peran ayah dalam kecerdasan emosional anak

SAVE OUR CHILDREN FROM GADGET. BIARKAN MEREKA MENIKMATI GOLDEN AGE MEREKA DENGAN CARA ALAMI KARENA BELUM WAKTUNYA MEREKA BERSENTUHAN DENGAN CANGGIHNYA TEKNOLOGI? 

Share:

0 comments:

Posting Komentar